Senin, 05 Desember 2016

cinta,rida, dan al-maqam lainnya



IDENTITAS
Nama                     :    Herawati Hasibuan
NIM                      :    72153002
Prodi/Sem             :    Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                 :    Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi   :    UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu  :    Dr. Ja’far, MA
Matakuliah            :    Akhlak Tasawuf

TEMA                        :   Cinta(al-mahabbah), Rida (al-ridha), Al-Maqam Lainnya
           
BUKU
Identitas Buku     :   Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1    :   Cinta(al-mahabbah)
Sub 2    :   Rida (al-ridha)
Sub 3    :   Al-Maqam Lainnya

Cinta (al-mahabbah)
Menurut al-Ghazali, al-mahabbah adalah al-maqam sebelum rida. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan Alquran, hadis, dan atsar. Diantara dalilnya Q.S.al-Ma;idah/5:54; Q.S. al-Shaff/61:4; dan Q.S. Ali ‘Imran/3:31. Kata cinta disebut Alquran secara berulang kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah Swt, sebagaimana yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Dalam Q.S. Ali ‘Imran /3:31;, Allah Swt. berfirman : “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Dr.Ja’far, Gerbang Tasawuf hl:78-79)
Menurut al-Ghazali, mengutip pendapat Yahya bin Mu;az, indicator seorang hamba mencitai Allah Swt. adalah mengutamakan perkataan Allah daripada perkataan manusia, mengutamakan bertemu dengan Allah daripada bertemu dengan makhluk, dan mengutamakan iabadah kepada Allah Swt. daripada melayani manusia. (Dr.Ja’far, Gerbang Tasawuf , hl:80)

Rida (al-ridha)
Kata rida berasal dari kata radhiya, yrdha, ridhanan  yang artinya “senang, puas, memilih, persetujuan, memilih, meyenangkan, dan menerima.” Dalam kamus bahasa Indonesia, rida adalah “rela, suka, senang hati, perkenan, dan rahmat.” Kata rida dari berbeagai bentuk disebut di dalam Alquran sebanyak 73 kali. Penyebutan istilah rida secara berulang kali dan dalam berbagai bentuk di dalam Alquran mengarahkan kepada kesimpulan bahwa Islam menilai penting maqam rida.
Menurut al-Ghazali, Islam menilai penting rida yang dapat dilihat dari berbagai dalail dalam Alquran, hadis dan Atsar. Diantara dalil rida adalah Q.S. al-Ma’idah/5:119; dan Q.S.al-Bayyinah/98:8. Dalam Q.S.al-Ma’idah/5:119, Allah Swt berfirman: “ Allah berfirman bahwa hari ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surge yang di bwahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Dr.Ja’far ,Gerbang Tasawuf  hl :80-82)

Al-Maqam Lainnya
Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al-ridha bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni al-ma’rifat haq yang bereti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang dikemukakan-Nya; dan ma’rifat haqiqah yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapai dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapat dipahami.
Sebagian sufi lain menghadirkan ajaran lain mengenai al-maqam tertinggi. Al-Hallaj mengenalkan paham al-hulul, Abu Yazid al-Bistami memiliki ajaran tetang al-ittihad, dan Ibn’Arabi mengajarkan paham wahdah al-wujud yang dielaborasi lebih lanjut oleh Mulla Shadra. Ketiga teori ini memang mendapatkan penolakan dari banyak fukaha dan teolog Sunni, tetapi diterima oleh mayoritas fukana Syiah. (Dr.Ja’far ,Gerbang Tasawuf  hl :85)

KESIMPULAN
Makna al-mahabbah di dalam tasawuf banyak dilihat dari berbagai ucapan dari para kaum sufi, karena cinta kepada Allah adalah senantiasa berzikir kepada Allah Swt. Islam sangat penting menilai rida yang dapat dilihat dari berbagai dalil Alquran seperti yang telah dijelakan oleh al-Ghazali.

RELEVANSI DALAM BIDANG
Setiap seorang manusia pasti memiliki rasa cinta dan rida, sebagai salah satu dari seorang mahasiswi saya berharap menerapkan rasa cinta saya kepada setiap pelajaran khususnya di bidang algoritma dan senantiasa rida dengan apa pun yang telah saya kerjakan untuk lebih mengkuatkan hati.

Jumat, 25 November 2016

Kekafiran, Sabar, Tawakal

Tasawuf :
Hierarki al-Maqamat


IDENTITAS
Nama                     :    Herawati Hasibuan
NIM                      :    72153002
Prodi/Sem             :    Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                 :    Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi   :    UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu  :    Dr. Ja’far, MA
Matakuliah            :    Akhlak Tasawuf

TEMA                        :   Hierarki al-Maqamat
           
BUKU
Identitas Buku     :   Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1    :   Kekafiran (al-faqr)
Sub 2    :   Sabar (al-shabr)
Sub 3    :   Tawakal (al-tawakkul)

Kekafiran (al-faqr)
Dalam terminology Alquran, istilah fakir berasal dari bahasa Arab, faqura, yafquru, faqran yang artinya miskin. Istilah faqr bermakna kemiskinan. Dalam bahasa Indonesia, fakir berarti “orang yang sangat berkurangan, orang yang terlalu miskin, atau orang yang dengan sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan bathin.” (Gerbang Tasawuf : Dr. Ja’far MA hl.68).
Al-Ghazali menyabutkan dalil-dalil kewajiban dan keutamaan fakir kitab ihya; ulum al-Din. Beberapa dalil tentang fakir adalah Q.S al-Hasyr/59:273. Menurut al-Ghajali, fakir dapat bermakna tidak memiliki harta. Menurutnya, ada lima tingkatan fakir, dua di antaranya yang paling tinggi derajatnya, yakni seorang hamba yang tidak suka diberi harta, merasa tersiksa dengan harta, dan menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan untuk mencari harta; dan seorang hamba tidak merasa senang bila mendapatkan harta; dan tidak merasa benci bila tidak mendapatkan harta. (Gerbang Tasawuf : Dr. Ja’far MA hl.70-71).

Sabar (al-shabr)
Kata sabar berasal dari bahasa Arab, shabara, yashbiru, shabran, maknanya adalah mengikat, bersabar, menahan dari larangan hokum, dan menahan diri dari kesedihan. Kata ini disebut di dalam Alquran sebanyak 103 kali. Dalam bahasa Indonesia, sabar bermakna “tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan tabah, tenang, tidak tergesa-gesa, dan tidak terburu nafsu.”
Allah Swt, berfirman Q.S al-Anfal/ 8:46 yang artinya;
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul- Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”

Tawakal (al-tawakkul)
Tawakal Berasal dari bahasa Arab, wakila, yakilu, wakilan  yang berarti “mempercayakan, memberi, membuang urusan, bersandar, dan bergantung,” istilah tawal disebut di dalam Alquran dalam berbagai bentuk sebanyak 70 kali. Dalam bahasa Indonesia, tawakal adalah “pasrah diri kepada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah (dalam penderitaan dan sebagainya), atau sesudah berikhtiar baru berserah kepada Allah”.
Allah Swt.berfirman dalam Q.S. Ali’Imran/3:159 yang artinya
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar; tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membualatkan tekad, maka berwataklah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadanya-Nya”.

KESIMPULAN
Kata sabar berasal dari bahasa Arab, shabara, yashbiru, shabran, maknanya adalah mengikat, bersabar, menahan dari larangan hokum, dan menahan diri dari kesedihan. Kata ini disebut di dalam Alquran sebanyak 103 kali. Dalam bahasa Indonesia, sabar bermakna “tahan menghadapi cobaan. Dalil-dalil kewajiban dan keutamaan fakir kitab ihya; ulum al-Din. Beberapa dalil tentang fakir adalah Q.S al-Hasyr/59:273. Menurut al-Ghajali, fakir dapat bermakna tidak memiliki harta. Sedangkan tawakal adalah tawakal adalah “pasrah diri kepada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah (dalam penderitaan dan sebagainya), atau sesudah berikhtiar baru berserah kepada Allah”.

RELEVANSI DALAM BIDANG

Sebagai jurusan sistem informasi ada baiknya kamu menerapkan sikap diantara ketiganya tersebut yang diantaranya adalah sabar dan tawakal, seperti yang dilakukan pada saat pemograman, pembuatan  system, dan saat pada analysa.


****** UNIVERSITAS ISLAM NEFERI SUMATERA UTARA ******

Minggu, 06 November 2016

Al-Maqamat dan Al-Ahwal

AL-MAQAMAT dan AL-AHWAL

IDENTITAS
Nama                     :    Herawati Hasibuan
NIM                      :    72153002
Prodi/Sem             :    Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                 :    Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi   :    UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu  :    Dr. Ja’far, MA
Matakuliah            :    Akhlak Tasawuf

TEMA                        :   Al-Maqamat dan Al-Ahwal
           
BUKU
Identitas Buku     :   Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1    :   Definisi
Sub 2    :   Pondasi al-Maqamat
Sub 3    :   Hierarki al-Maqamat

Defenisi :
Karya-karya para sufi telah menunjukkan bahwa tasawuf sebagai disiplin ilmu dirancang sebagai media informasi bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. sehingga para penempuh jalan tasawuf (al-murid/al-salik) akan dapat meraih kemantapan tauhid dan makriat. Sebab itu para sufi menyusun teori mengenai usaha-usaha untuk menempuh perjalanan spiritual (thariqah) berupa tangga-tangga pendakian spiritual yang disebut al-muqamah.
Abu al-Najib al-Suhrawardi dan al-Qusyairi memberikan penjelasan mengenai al-maqamat dan al-ahwal. Dalam Adah al-Muridin, Abu al-Najib al-Suhrawardi, al-maqamat adalah tingkatan spiritual seorang hamba dalam ibadah di hadapan Allah Swt. Dalam Risalah al-Qusyairiyyah, al-Qusyairi menjelaskan bahwa al-maqamat  adalah tingkatan spriritual yang akan diraih salik dengan jalan mujadah dan mengamalkan adab-adab, perilaku, dan sikap tertentu, serta riyadah.
Dengan demikian, al-maqamat adalah tingkatan-tingkatan spiritual seorang sufi, dari tingkatan paling mendasar sampai tingkatan tertinggi, yaitu dekat dengan Allah Swt., yang di peroleh salik secara mandiri melalui pelaksanaan ibadah, mujahadah, dan riyadhah secara terus menerus. Al-ahwal merupakan keadaan hati seorang salik yang bukan merupakan hasil usahanya secara mandiri, melainkan pemberian al-maqamat dan al-ahwal dalam karya-karya mereka.
Berdasarkan teori tersebut, seorang sufi merumuskan konsep perjalanan spiritual dari diri manusia menuju kedekatan bersama Allah Swt.(sebagai makna dari gerak menaik wujud[jiwa]) dengan terlebih dahulu mendeskripsikan proses kemunculan manusia dari hakikat wujud (sebagai makna dari gerak menurut wujud). Inilah makna dari pernyataan agama bahwa manusia berasal dari Allah (gerak menurun jiwa dari alam tertinggi[Tuhan] menuju alam terendah [jasad]). Dan akan kembali kepada-Nya (gerak menaik jiwa dari alam terendah[jasad] menuju ke hadirat Allah Swt. sebagai realitas tertinggi dan sumber asalnya).

Pondasi al-Maqamat
Dalam memperoleh maqam tertentu, selain wajib menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahadah, dan riyadhah, seorang salik harus melakukan khalwah dan uzla dalam melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah Swt.
Khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju hati, dari hati menuju ruh, dari ruh menuju alam rahasia, dan dari alam rahasia menuju Allah Swt. Sedangkan hakikat uzla (mengasingkan diri) adalah menjaga keselamatan diri dari niat buruk orang lain. Nashral al-Din al-Thusi mengungka[kan bahwa mengasingkan diri akan dapat mengarahkan salik meraih pancaran dari Allah Swt selama berkhalwat, salik harus berusaha membebaskan diri dari seluruh gangguan indrawi, gangguan batin dan mendisiplinkan aspek-aspek hewani dalam dirinya sehingga ia tidak mengikuti kecenderungan kepada berbagai aspek tersebut.
Dalam khalwah dan uzla, seorang salik harus menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahadah, dan riyadah. Menurut al-Qusyairi, ibadah atau ubudiyah adalah “melaksanakan segala apa yang diperintahkan, dan menjauhi segala yang dilarang” salah satu yang menjadi andalan seorang salik adalah zikir.

Hierarki al-Maqamat
Dalam karya-karya tasawuf karangan sufi dari mazhab Sunni, akan dapat dilihat dari ragam rumusan mengenai al-maqamat sebagai tingkatan yang harus diraih seorang salik secara mandiri dengan melakukan berbagai al-ibadah, al-mujahadah, dan al-riyadat, mulai dari maqam pertama sampai pada maqam paling puncak. Abi Nashr Abd Allah ibn Ali al-Sarraj al-Thusi menyusun dari maqam pertama sampai maqam paling puncak, yang dimulai dari : Tobat (al-taubah), Warak (wara’), Zuhud (al-zuhd), kefakiran (al-faqr), Sabar (al-shabr), cinta (al-mahabbah), rida (al-ridha).



Al-Maqam Lainnya
Sebagian para sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah) dan menegaskan bahwa al-ridha bukan maqam tertinggi. Al-Qusyairi menjelaskan bahwa maksud para sufi dari istilah makrifat adalah “sifat dari orang-orang yang mengenal Allah Swt. dengan nama dan sifat-Nya, dan membenarkan Allah Swt. dengan melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan.
Sebagian sufi lain menghadirkan ajaran lain mengenai al-maqam tertinggi. Al-Hallaj mengenalkan paham al-hulul, Abu Yazid al-Bistami memiliki ajaran tentang al-ittihad, dan Ibn Arabi mengajarkan paham wahdah al-wujud yang dielaborasi lebih lanjut oleh Mulla Shadra. Ketiga teori ini memang mendapatkan penolakan dari banyak fukaha dan teolog Sunni, tetapi diterima oleh mayoritas fukana Syiah.

Mengenal al-Ahwal
Sebagian sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal adalah al-muraqabah, al-khauf (takut), al-raja’ , dan al-syawq (rindu). Berbeda dari al-maqamat yang diraih dari hasil usaha salik secara mandiri dengan melakukan ibadah, mujahadah dan riyadhah, al-ahwal tidak diraih secara mandiri, melainkan anugerah dari Allah Swt. dan keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik.

KESIMPULAN
Dalam Risalah al-Qusyairiyyah, al-Qusyairi menjelaskan bahwa al-maqamat  adalah tingkatan spriritual yang akan diraih salik dengan jalan mujadah dan mengamalkan adab-adab, perilaku, dan sikap tertentu, serta riyadah. Dengan demikian, al-maqamat adalah tingkatan-tingkatan spiritual seorang sufi, dari tingkatan paling mendasar sampai tingkatan tertinggi, yaitu dekat dengan Allah Swt., yang di peroleh salik secara mandiri melalui pelaksanaan ibadah, mujahadah, dan riyadhah secara terus menerus. Al-ahwal merupakan keadaan hati seorang salik yang bukan merupakan hasil usahanya secara mandiri, melainkan pemberian al-maqamat dan al-ahwal dalam karya-karya mereka. Beberapa contoh dari al-ahwal adalah al-muraqabah, al-khauf (takut), al-raja’ , dan al-syawq (rindu)

RELEVANSI DENGAN BIDANG            :
Didalam kehidupan sehari-hari adabaiknya kita seorang manusia bisa mengamalkan adab dan perilaku serta riyadah dari tingkatan mendasar sampai tingkatan paling tinggi. Tidak hanya focus dalam satu bidang saja tetapi bisa menyetarakannya disetiap bidang yang dijalankannya/yang diambilnya saat ini pada masing-masing pengambil seperti yang di jelaskan pada khalwah dan uzla.

Minggu, 30 Oktober 2016

ESPITEMOLOGI TASAWUF

Epistemologi Tasawuf :
Peran Hati dalam Tasawuf, Metode Tzkiyah al-Nafs

IDENTITAS
Nama                     :    Herawati Hasibuan
NIM                      :    72153002
Prodi/Sem             :    Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                 :    Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi   :    UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu  :    Dr. Ja’far, MA
Matakuliah            :    Akhlak Tasawuf

TEMA                        :   Peran Hati dalam Tasawuf, Metode Tzkiyah al-Nafs
           
BUKU
Identitas Buku     :   Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1    :   Peran Hati dalam Tasawuf
Sub 2    :   Metode Tazkiyah al-Nafs



A.    Peran Hati dalam Tasawuf
Dalam tradisi islam, hati ditempatkan sebagai salah satu saranan mraih ilmu. Istilah hati disebut berulang kali dalam Al-quran dan hadis yang bisanya disebut dengan kata qalb, al-fuad. Dalam tradisi islam, hati (qalb) merupakan subsistem jiwa manusia, Ahmad mubarok merupakan subsistem jiwa manusia. Ahmad mubarok telah menemukan konsep Al-quran tentang fungsi, potensi, kandungan dan kualitas hati manusia.
Mayoritas sufi menilai bahwa akal manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah Swt. Dan Alquran menjelaskan bahwa kelemahan akal ditutupi oleh hati yang damai. Jadi hati yang damai mampu datang dan menghadap kepada Allah Swt.
Menurut Al-Ghajali hati (qalb) mampu meraih tentang dan meyaksikan wujud-wujud spiritual. Menurutnya, ketik manusia mengenal hatinya, maka ia  mengenal dirinya, sehingga niscaya ia mengenal Allah Swt. Hati mampu menyaksikan Allah Swt dan mengenal sifat-sifatnya serta mempu menyingkap segala sesuatu.
Hati akan suci ketika dihiasai oleh sifat-sifat Ilahiah, cahaya iman dan hikmah, sehinggga hati akan meraih Kasyf yang membuatnya dapat memperolah kebenaran bertemu Allah Swt, dan mampu menyingkap hakikat agama. Sebaliknya jika hati menjadi kotor akibat maksiat, maka hati menjadi hitam dan akibatnya akan terhijab dari Allah Swt.
Menurut Al-Ghajali, ada lima penyebab hati gagal meraih ilmu, yakni kekurangan hati; hati menjadi kotor akibat mengikuti hawa nafsu sehingga selalu berbuat maksiat dan perbuatan keji; hati dipalingkan dari kebenaran karena tidak mau kebenaran dan mengarahkan pikiran kepada hakikat ilahiah; terhijab karena banyak taklid dan tunduk kepada prasangka, meskipun telah mampu mengekang hawa nafsu dan mengekang kebenaran; dan kebodohan dalam mengatahui arah kebenran akibat penyelewengan ilmu dan tidak mengetahui manfaat pencarian ilmu. Dapat disimpulkan, bahwa hati harus dihiasi oleh ibadah, dan dijauhi dari jebakan hawa nafsu, agar hati mampu meraih ilmu, menyaksikan dunia spiritual, dan menyingkap rahasia agama.

B.     Metode Tazkiyah Al-Nafs (irfani)
Kaum sufi menyakini bahwa akal manuia asih memiliki kelemahan, meskiun relative sukses memberikan gambaran rasional terhadap dunia spiritual. Keabsahan Tazkiyah al-nafs diakui oleh kitab suci umat islam. Al-quran misalnya menegaskan bahwa para nabi dan rasul diutus untuk menyucikan jiwa manusia. Adapun keutamaan tazkiyah al-nafs menurut al-quran bhawa pelakunya disebut sebagai orang-orang beruntung dan orang tersebut diberi pahala serta keabadian surgawi. Dengan demikian metode irfani merupakan metode yang dikembangan dari isyarat-isyarat wahyu, metode para nabi dan rasul serta memberikan keberuntungan dunia dan akhirat kepada penggunanya.
Metode irfani merupakan metode kaum sufi dm islam yang mengandalkan aktifitas penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih deengan cara mendekatkan diri kepada sosok yang maha mengetahui, bukan dengan metode observasi dan eksprimen atau juga metode rasional.

C.    Kesimpulan
Mayoritas sufi menilai bahwa akal manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah Swt. Dan Alquran menjelaskan bahwa kelemahan akal ditutupi oleh hati yang damai. Jadi hati yang damai mampu datang dan menghadap kepada Allah Swt.
Metode irfani merupakan metode kaum sufi dm islam yang mengandalkan aktifitas penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih deengan cara mendekatkan diri kepada sosok yang maha mengetahui, bukan dengan metode observasi dan eksprimen atau juga metode rasional.


D.    RELEVANSI DENGAN BIDANG :
Setiap manusia pasti memiliki hati yang mampu meraih ilmu dan menyaksikan dunia spriritual didalam bidang nya masing-masing yang berhubungan dengan metode irfani yang mampu dijalankan oleh semua manusia.



****** UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA ******

Senin, 24 Oktober 2016

Akhlak Tasawuf



Tasawuf :
Defenisi, Hierarki dan Tujuan


IDENTITAS
Nama                     :    Herawati Hasibuan
NIM                      :    72153002
Prodi/Sem             :    Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                 :    Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi   :    UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu  :    Dr. Ja’far, MA
Matakuliah            :    Akhlak Tasawuf

TEMA                        :   Definisi, Hierarki, dan Tujuan
           
BUKU
Identitas Buku     :   Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1    :   Definisi Tasawuf
Sub 2    :   Hierarki
Sub 3    :   Tujuan Tasawuf



A.  Defenisi Tasawuf
Karya-karya modern dalam bidang tasawuf telah mendiskusikan asal-usul kata tasawuf, meskipun kerya-karya klasik lebih diutamakan untuk dimanfaatkan sebagai upaya memahaminya secara baik berdasarkan data otentik. Dalam kitab Kasf al-Mahjub, al-Hujwin telah menjelaskan asal-usul kata tasawuf. Pertama istilah tasawuf berasal dari kata al-shuf yaitu wol yang bermakna bahwa kaum sufi mengenakan jubah yang bermakna bulu domba. Kedua tasawuf berasal dari kata al-shaf yang bermakna kaum sufi berada pada barisan pertama didepan Tuhan. Ketiga istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuffah karena para sufi mengaku sebagai golongan ahl al-shuffah yang diridhai Allah. Keempat istilah tasawuf berasal dari kata al-shafa’ yang artinya kesucian sebagai makna bahwa sufi telah menyucikan akhlak mereka dari noda bawaan dank arena kemurnian hati dan kebersihan tindakan mereka.
Berdasarkan tindakan diatas dapat dipahami bahwa tasawuf merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan penyucian jiwa manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.


B.  Tasawuf dalam Hierarki Ilmu-ilmu Islam
Dalam tradisi intelektual islam, para ulama telah membuat klasifikasi ilmu berdasarkan sudut pandang Islam. Di antara mereka, pendapat Ibn Khaldun cukup penting diutarakan. Ibn Khakdun telah mengulas tsawuf sebagai sebuah disiplin ilmu dalam kitab Muqaddimahnya. Dari aspek sumber, tasawuf sebagai salah satu dari ilmu syariah, menurut Ibn Khaldun, bersumber dari syariat yakni Al-quran dan hadis, dan akal yang tidak memiliki peran dalam ilmu-ilmu syariah kecuali menarik kesimpulan dari kaidah-kaidah utama untuk cabang-cabang permasalahannya. Menurut Ibn Khaldun, kebanyakan fukaha menolak ajaran kaum sufi tentang tasawuf. Penolakan fukaha (Sunni) tidak serta merta ditujukan kepada semua jenis tasawuf.

C.  Tujuan Tasawuf
Tujuan tasawuf tersebut tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup manusia sebagaimana dijelaskan dalam ajaran islam. Seorang mulim tidak saja dituntut untuk menjalankan al-islam dan al-iman, tetapi juga merealisasikan al-ihsan sebagai hierarki paling tinggi. Jadi Al-quran dan hadis menghendaki umat islam dapat memantapkan ketauhidan dan ibadah dalam kerangka al-ihsan, dan mengimplementasikan tugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi demi kabaikan dunia maupun akhirat kelak.
Para sufi telah merumuskan tujuan dari tasawuf. Sekadar pemetaan, Ibn Khaldun menjeleaskan bahwa puncak perjalanan spirituan para penempuh jalan tasawuf setelah melewati beragam tingkatan spiritual (al-muqamat) adalah kemantapan tauhid dan makrifat. Dua sumber ajaran islam, Alquran dan hadis, memberikan sinyal kuat bahwa manusia berpotensi untuk mendekatkan diri kepada Allah swa., bertauhd dan bermakriat kepadaNya.


 Kesimpulan
Dari aspek sumber, tasawuf sebagai salah satu dari ilmu syariah, menurut Ibn Khaldun, bersumber dari syariat yakni Al-quran dan hadis, dan akal yang tidak memiliki peran dalam ilmu-ilmu syariah kecuali menarik kesimpulan dari kaidah-kaidah utama untuk cabang-cabang permasalahannya. Dua sumber ajaran islam, Alquran dan hadis, memberikan sinyal kuat bahwa manusia berpotensi untuk mendekatkan diri kepada Allah swa., bertauhd dan bermakriat kepadaNya.

RELEVANSI DENGAN BIDANG            :
Dalam pembelajaran Sains dan Tekhnologi bukan hanya bidang keahliannya saja yang harus dipelajari, namun sebagai fakultas sains dan tekhnologi juga harus mampu mempelajari akhlak tasawuf agar menyucikan akhlak mereka dari noda bawaan dan kemurnian hati serta  kebersihan tindakan mereka.